Kultum Ramadhan 1447 H | Bacalah dan Menangislah: Menghidupkan Hati Bersama Al-Qur’an

Hakim Pengadilan Agama Tulungagung, Drs. H. Mohammad Agus Sofwan dalam kultum Ramadhan menyampaikan pesan dalam Hadis yang diriwayatkan Ibnu Majah
اِنَّ هَذَا الْقُرْاَنَ نَزَلَ بِخُزْنٍ فَاِذَا قَرَاْتُمُوْهُ فَابْكُوْا فَاِنْ لَمْ تَبْكُوْا فَتَبَاكَوْا
Artinya: “Sesungguhnya Al-Qur’an ini diturunkan dengan kesedihan. Maka apabila kalian membacanya, menangislah. Jika kalian tidak bisa menangis, maka berusahalah untuk menangis.”
Hadis ini mengajak kita memahami bahwa Al-Qur'an bukan sekadar bacaan yang dilantunkan dengan suara merdu, tetapi wahyu yang sarat makna, peringatan, dan sentuhan hati. Ia turun membawa kabar tentang perjuangan para nabi, kisah umat terdahulu yang ingkar, ancaman bagi pendosa, sekaligus janji indah bagi orang-orang beriman. Di dalamnya ada ayat tentang surga yang menenangkan dan neraka yang menggetarkan. Maka wajar jika hati yang hidup akan tersentuh dan mata pun menitikkan air mata.
Makna “diturunkan dengan kesedihan” bukan berarti Al-Qur’an adalah kitab keputusasaan. Justru ia hadir di tengah penderitaan, tekanan, dan perjuangan dakwah Rasulullah ﷺ. Di kota Makkah, saat kaum muslimin tertindas, wahyu turun sebagai penguat hati. Di Madinah, ayat-ayat turun membimbing umat membangun peradaban.
Di zaman sekarang, sering kali kita membaca Al-Qur’an dengan cepat demi mengejar target khatam, namun lupa merenungi maknanya. Padahal satu ayat yang dibaca dengan penuh tadabbur bisa lebih membekas daripada satu juz yang dibaca tanpa rasa. Ketika membaca ayat tentang ampunan, bayangkan dosa-dosa kita. Ketika membaca ayat tentang azab, renungkan kelalaian kita. Di situlah air mata akan hadir, bukan karena dibuat-buat, tetapi karena kesadaran.
Hadis ini mengajarkan bahwa hubungan kita dengan Al-Qur’an haruslah hubungan hati. Bukan hanya suara yang bergetar, tetapi jiwa yang tersentuh. Bukan hanya lisan yang melafalkan, tetapi hati yang merasakan. Jika Al-Qur’an dibaca dengan hati yang hidup, ia akan menjadi cahaya, penenang, sekaligus penuntun menuju keselamatan dunia dan akhirat.
