Kultum Ramadhan 1447 H | “Ketika Hati Menjadi Penentu Baik dan Buruknya Hidup”

Hakim Pengadilan Agama Tulungagung, Drs. Moh. Ghofur, M.H., dalam kultum Ramadhan menyampaikan pesan dalam (HR Bukhari, No. 50)
أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ. أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ
“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam jasad terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, itulah hati.”
Hati: Pusat Kendali Amal dan Perilaku
Dalam pandangan Islam, hati bukan sekadar organ fisik, melainkan pusat kesadaran, niat, dan keimanan. Dari hatilah lahir kejujuran atau kebohongan, keikhlasan atau riya’, kasih sayang atau kebencian.
Seseorang mungkin tampak baik secara lahiriah, tetapi jika hatinya penuh iri dan sombong, maka perilakunya perlahan akan mencerminkan keburukan itu. Sebaliknya, jika hatinya bersih dan dipenuhi iman, maka seluruh anggota tubuh akan mengikuti dalam kebaikan.
Ketika Hati Baik, Hidup Menjadi Tenang.
Hati yang baik adalah hati yang hidup dengan iman. Ia mudah tersentuh oleh ayat-ayat Allah, ringan dalam berbuat kebaikan, dan cepat sadar ketika berbuat salah.
Ketenangan bukan berasal dari banyaknya harta atau tingginya jabatan, tetapi dari hati yang dekat dengan Allah. Hati yang baik melahirkan akhlak yang mulia.
Ketika Hati Rusak, Semua Ikut Rusak.
Sebaliknya, hati yang rusak akan melahirkan kerusakan dalam hidup. Penyakit hati seperti hasad, riya’, ujub, dan takabur sering kali tidak terlihat, tetapi dampaknya sangat besar.
Karena pentingnya hati, maka merawatnya adalah kewajiban setiap Muslim. Maka sebelum menilai orang lain, mari kita bertanya pada diri sendiri, Karena sesungguhnya, kualitas hidup dan keselamatan akhirat sangat ditentukan oleh segumpal daging yang bernama hati.
