logopata

Written by radik on . Hits: 9

mutiara ramadhan

HIKMAH RAMADAN

[DAY 21]

PILIHAN

“Maka, adapun orang yang melampaui batas. Dan lebih mengutamakan kehidupan dunia. Maka sesungguhnya, neraka tempat tinggalnya.” (Q.S. An-Naziat: 37-38)

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. Maka sesungguhnya, surga tempat tinggalnya.” (Q.S. An-Naziat: 39-41)

Telah kita singgung beberapa kali. Bahwa puasa adalah ajang pendidikan untuk membentuk jiwa yang teguh. Terutama agar kita mampu mengendalikan keinginan. Mampu menjaga jarak dari keinginan yang tidak ada ujungnya.

Kita tahu, hawa nafsu adalah kehendak diri terhadap sesuatu. Atau dalam bahasa sederhana adalah keinginan. Dan dalam hal ini, ada batasan-batasan yang ditentukan Allah.

Ayat di atas, menunjukkan kepada dua pilihan. Apakah seseorang akan memilih melampaui batas atau menahan diri. Masing-masing pilihan ada konsekuensinya.

Konsekuensi itu sudah ditunjukkan dengan gamblang. Bahwa bagi mereka yang melampaui batas, tempatnya adalah neraka. Sebaliknya, bagi yang memilih menahan diri, tempatnya adalah surga.

Jadi. Ada dua pilihan yang disediakan. Surga atau neraka. Tidak ada pilihan ketiga. Masing-masing pilihan ada syarat yang harus dipenuhi.

Yang menyeret seseorang ke neraka adalah perbuatan melampaui batas. Dan orang yang lebih mengutamakan kehidupan dunia. Adapun yang mengantarkan seseorang ke surga adalah takut kepada Tuhan, dan menahan diri dari keinginan hawa nafsu.

Ini pelajaran anak-anak. Dahulu sekali, kita sudah diajarkan tentang ini. Dan tentang ayat-ayat di atas, sampai saat ini, kita juga masih hafal di luar kepala. Beserta maksud dan kandungan maknanya.

Namun, kadang, hiruk-pikuk kehidupan ini membuat kita sedikit lengah. Membuat kita tidak bisa menghayati pesan ayat tersebut dalam kehidupan.

Selain itu, namanya setan, dia bekerja dengan sangat halus dan gigih. Menyusup ke relung hati manusia. Menunggu manusia lengah. Dan akhirnya, tanpa kita sadari, kita telah lalai.

Misalnya, keinginan terhadap harta. Kita sudah hafal di luar kepala. Bahwa kita tidak boleh tamak terhadap harta. Tapi, secara diam-diam, kadang kita mengikuti nafsu terhadap harta.

Contoh sederhana. Ketika kita sudah punya satu atau dua properti. Kita ingin membeli lagi dan lagi. Kadang kita juga ingin membeli mobil yang lebih baru. Dan lebih mewah. Begitu seterusnya.

Bahkan sampai hal yang tampak remeh. Seperti, keinginan membeli pakaian baru. Agar tampak lebih memukau. Padahal, di rumah, pakaian menumpuk. Bahkan sampai kita tidak menghitung. Berapa potong pakaian kita di lemari.

Kadang kita bersusah payah untuk memenuhi keinginan. Sementara, mungkin sangat sedikit yang kita belanjakan untuk ketaatan. Atau bahkan, kita menyempitkan makna ketaatan hanya sebatas pada sujud tepat waktu saja.

Apa ini namanya, kalau bukan mengutamakan kehidupan dunia? Persis dengan apa yang disebutkan dalam ayat di atas. Hanya saja, mungkin kita tidak sadari.

Lebih gamblang lagi, jika dalam memenuhi keinginan itu, kita tidak peduli bagaimana cara memperolehnya. Asal sikat apa saja. Asal ada kesempatan, dan dirasa aman. Ini jelas akan menyeret ke neraka.

Keinginan tidak ada ujungnya. Segala sesuatu di luar kebutuhan adalah keinginan. Satu piring nasi dan satu potong lauk. Beserta beberapa sendok kuah adalah kebutuhan. Selebihnya adalah keinginan.

Tiga atau empat potong baju adalah kebutuhan. Selebihnya keinginan. Rezeki yang diberikan selalu cukup untuk memenuhi kebutuhan. Namun, sebanyak apapun tidak akan cukup untuk memenuhi keinginan.

Saya lebih setuju, jika biaya untuk memenuhi keinginan itu didonasikan kepada yang lebih membutuhkan. Memberi mereka makanan, pakaian, biaya sekolah, dan seterusnya.

Kita tahu, tidak semua orang beruntung. Dari pada untuk memenuhi ambisi pribadi, sangat baik jika itu diberikan kepada orang-orang yang kurang beruntung. Agar kondisi mereka sedikit lebih baik.

Kembali pada topik kita. Bahwa ada dua pilihan yang disediakan. Pertama, pilihan yang menyeret ke neraka. Dan kedua, pilihan yang mengantarkan ke surga. Puasa Ramadan adalah pendidikan, agar kita bisa menetapkan diri pada pilihan yang kedua. []

Catatan Ramadan M. Khusnul Khuluq, 2021.

Add comment


Security code
Refresh

Hubungi Kami

Pengadilan Agama Tulungagung

Jl. Ir. Soekarno - Hatta No. 117
Balerejo - Kauman - Tulungagung

Telp: 0355-336516
Fax: 0355-336121

Email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

fb icon 325x325    Instagram   whatsapp

Copyright © TIm-IT PA - Tulungagung 2019