logopata

Written by radik on . Hits: 8

mutiara ramadhan

HIKMAH RAMADAN

[DAY 16]

AMAL

Salah satu tujuan puasa adalah untuk membawa orang beriman mencapai takwa. Takwa itu tentang tingkatan spiritual. Persoalan batiniah. Tidak tampak. Namun, ada beberapa sisi yang bisa diamati.

Tentu. Kita tidak bisa melakukan klaim bahwa kita telah bertakwa. Atau seseorang telah bertakwa. Tanpa ada ukuran-ukuran tertentu yang bisa diamati.

Tentang ini. Disebutkan dalam al-Quran bahwa, “Itu adalah Kitab yang tidak ada keraguan padanya. Sebagai petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (Q.S Al-Baraqah: 2)

Disebutkan dalam ayat di atas, bahwa kitab tersebut adalah petunjuk bagi orang bertakwa. Pendapat paling umum adalah bahwa yang dimaksud kitab di situ adalah Al-Quran.

Tapi siapa orang bertakwa yang dimaksud? Di ayat selanjutnya dijelaskan bahwa, “Yaitu mereka yang beriman kepada yang gaib, mendirikan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (Q.S Al-Baraqah: 3)

Dari ayat selanjutnya ini, kita mendapatkan sedikit gambaran tentang ciri orang yang bertakwa. Yaitu beriman kepada yang gaib, mendirikan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki mereka.

Sebetulnya. Masih ada kelanjutan ayat ini. Yang juga mencirikan orang bertakwa. Namun, kali ini, kita akan elaborasi lebih detail tentang tiga ciri tersebut terlebih dahulu.

Pertama, beriman kepada yang gaib. Beriman kepada yang gaib tidak gampang. Tidak mudah untuk benar-benar percaya dengan persoalan yang tidak tampak mata.

Kita, dalam hal yang remeh-temeh saja, kadang tidak percaya begitu saja. Sebelum kita melihat sendiri. Apa lagi ini persoalan besar. Lain halnya dengan iman warisan.

Persoalan yang tidak tampak itu banyak sekali. Salah satunya tentu adalah Allah. Dengan berbagai sifatnya. Juga berbagai ciptaan Allah yang tidak tampak oleh kita.

Kita perlu menundukkan akal dan kesombongan kita agar Allah menampakkan diri dalam kesadaran kita. Tentu tidak mudah menundukkan akal.

Saat ini. Ilmu pengetahuan dengan berbagai perangkatnya belum mampu menunjukkan kepada kita secara kasat mata tentang keberadaan Allah. Kecuali secara teoritik. Ini mengapa tidak semua orang percaya.

Percaya pada persoalan gaib termasuk juga percaya kepada Nabi, serta ajaran yang dibawa oleh beliau. Dalam hal ini. Kita tidak melihat dan tidak berjumpa dengan Beliau. Namun, kita harus percaya. Supaya memenuhi ciri takwa.

Satu hal yang menarik adalah. Bahwa di dalam al-Quran, kebanyakan kata iman selalu disandingkan dengan amal saleh. Kita akan menemukan di banyak tempat model ayat seperti ini.

Bagi saya, ini menarik. Karena berarti, iman bukan hanya kepercayaan yang letaknya di pikiran. Tetapi, juga harus dibarengi dengan tindakan nyata, yang berdampak baik pada manusia maupun segenap makhluk.

Persoalan percaya pada hal gaib, kadang dikaitkan dengan rasa takut pada Allah. Misalnya, dalam salah satu ayat disebutkan bahwa, “Yaitu orang-orang yang takut akan Tuhan mereka, sedang mereka tidak melihat-Nya, dan mereka merasa takut akan datangnya hari kiamat.” (Q.S. Al-Anbiya: 49)

Dari situ kita mengerti bahwa, karena kita percaya bahwa Allah adalah penguasa hari pembalasan, maka kita takut. Padahal, kita tidak atau belum melihatnya. Lalu bagaimana mengetahui bahwa Allah punya siksa di hari pembalasan?

Konsep takut, adalah akumulasi dari pengetahuan. Dalam salah satu potongan ayat disebutkan bahwa, “Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama. Sungguh, Allah Maha perkasa, Maha Pengampun.” (Q.S. Fatir: 28)

Dan kita tahu, pengetahuan adalah proses pencarian yang panjang. Dan hilir dari semua itu adalah rasa takut kepada tuhan. Pengetahuan yang baik adalah pengetahuan yang bisa membawa hamba menuju Allah.

Kedua, mendirikan salat. Kita tahu. Bahwa orang beriman belum tentu bertakwa. Untuk mencapai takwa, selain beriman, harus melakukan beberapa hal lain. Salah satunya adalah mendirikan salat.

Salat adalah simbol ibadah dan doa. Apa yang kita baca dalam salat adalah rangkaian doa. Di samping tentu juga adalah berbagai pujian serta harapan.

Dalam ayat ini, bukan hanya mengerjakan salat. Tapi mendirikan. Mendirikan maknanya lebih dalam. Selain konsisten menjaga kualitas, juga menghayati.

Kita tahu. Salah satu tujuan salat adalah untuk mencegah seseorang dari perbuatan keji dan durhaka. Perbuatan keji cakupannya luas sekali. Begitu juga durhaka, juga luas sekali.

Segala perbuatan yang merendahkan martabat adalah perbuatan keji. Baik kepada diri sendiri maupun terhadap yang lain. Dan segala sikap ingkar terhadap perintah adalah durhaka. Dalam hal ini, tentu perintah Allah.

Salat harus bisa mengubur dalam-dalam dua perbuatan ini. Salat yang tidak bisa membuat seseorang menghindari dua hal ini, perlu dipertanyakan salatnya.

Salat yang bermakna akan mampu membawa perubahan bagi pelakunya. Terutama menghindari dua perbuatan itu. Sebaliknya, jika kita masih gemar dengan dua hal ini, salat kita dipertanyakan.

Orang yang telah memuji tuhannya paling tidak lima kali dalam satu hari, namun tetap tidak membawa perubahan pada dirinya. Maka, pujian itu tidak bermakna.

Ketiga, menginfakkan sebagian rezeki mereka. Infak adalah distribusi harta yang kita miliki dengan tujuan untuk kebaikan. Misalnya, untuk berdakwah. Dengan berbagai bentuknya.

Rezeki datangnya dari Allah. Dan itu hanya titipan Allah yang dititipkan pada kita. Selain itu, juga ada hak orang lain di situ. Karena itu, tidak selayaknya jika kita ingin menikmati itu sendiri.

Di sebutkan bahwa, "Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta, dan orang miskin yang tidak mendapat bagian." (Az-Zariyat: 19)

Selain mengharap pahala, distribusi harta adalah salah satu bentuk amal sosial kepada sesama. Dengan itu, kita berharap kesulitan sebagian manusia bisa selesai. Atau paling tidak menjadi lebih ringan.

Dengan demikian, kita perlu memilah kepada siapa kita mendistribusikan. Karena ini bukan semata untuk kepentingan kita. Tapi juga untuk meringankan penderitaan orang yang diberi.

Tentu kita harus mengutamakan orang-orang yang membutuhkan. Orang-orang yang kurang beruntung. Dari pada orang yang berkecukupan. Supaya relevan dengan tujuan awalnya.

Berbeda halnya jika kita berderma karena rasa gengsi, atau mengharap suatu imbalan. Bagi saya, ini sudah melenceng dari tujuan awal. Harta yang didermakan dengan cara seperti itu justru akan diberi balasan api neraka.

Dengan tiga hal di atas, kita bisa mengukur diri kita masing-masing. Apakah ciri itu sudah ada pada kita atau belum. Jika belum, Ramadan adalah upaya agar berbagai ciri itu ada pada kita nantinya. []

Catatan Ramadan M. Khusnul Khuluq, 2021.

Add comment


Security code
Refresh

Hubungi Kami

Pengadilan Agama Tulungagung

Jl. Ir. Soekarno - Hatta No. 117
Balerejo - Kauman - Tulungagung

Telp: 0355-336516
Fax: 0355-336121

Email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

fb icon 325x325    Instagram   whatsapp

Copyright © TIm-IT PA - Tulungagung 2019